Jam Sunda

Jam pada umumnya memiliki sejarah yang sanga panjang, di Inggris memiliki jam antik yang dikenal dengan nama Big Ben, atau jam yang sangat besar dipasang dalam salah satu bangunan yang tentunya menyimpan sejarah.
Di Indonesiapun tak kalah, kita memiliki jam yang mempunyai nilai sejarah terletak di kota Padang yang di kenal dengan nama jam Gadang dibuat sejak jaman penjajahan Belanda tentunya menjadi kebanggaan tersendiri buat masyarakat Padang.
Dulu di wilayah Sunda jaman Bupati ada yang disebut jam gantung yang matrialnya sendiri dibuat dari Emas atau perak. Jam yang menyerupai bandul berikut rantainya, dipakai dengan dikalungkan dipadu dengan setelan pakaian jas, tentunya hanya kalangan elit dan petinggi yang mampu memilikinya sebagai simbol status sosial.
Yang uniknya masyarakt Sunda jaman dulu memiliki perhitungan sendiri pada jamnya, dan penamaan waktunya bukan jam tetapi Wanci, untuk sebagaian warga Jawa Barat khususnya masyarakat Sunda mungkin masih merasa aneh dengan kata wanci walaupun wanci itu sendiri meiliki persamaan dengan waktu hanya saja wanci menunjukan waktu yang panjang artinya tidak spesifik, tidak seperti jam yang menunjukan waktu spesifik contohnya jam 8:30.
Dan ini contohnya perhitungan waktu Sunda Buhun/Baheula/Dulu :
+ Jam 12.00 = Tengah Poe / tengah hari.
+ Jam 13.00 = Lingsir
+ Jam 14.00 = Kalangkang satangtung/bayangan setinggi badan
+ Jam 15.00 = Mengok
+ Jam 16.00 = Tunggang gunung
+ Jam 17.00 = Sariak layung
+ Jam 17.30 = Sareupna
+ Jam 19.00 = Harieum beungeut
+ Jam 20.00 = Sareureuh budak
+ Jam 21.00 = Tumoke'
+ Jam 22.00 = Sareureuh Kolot
+ Jam 00.00 = Indung peuting
+ Jam 01.00 = Tengah Peuting
+ Jam 02.00 = Tumorek
+ Jam 03.00 = Janari leutik
+ Jam 04.00 = Janari geude
+ Jam 05.00 = Balebat
+ Jam 06.00 = Carangcang tihang
+ Jam 07.00 = Melete'k panon poe
+ Jam 08.00 = Ngaluluh taneuh
+ Jam 09.00 = Haneut moyan
+ Jam 10.00 = Rumangsang
+ Jam 11.00 = Pecat sawed
Contoh perhitungan Masyarakat Sunda jaman dulu Untuk menandakan satu waktu bukan dengan perhitungan angka tetapi dengan melihat keadaan alam dan lingkungan, mudah-mudahkan bisa menjadikan perbendaharaan pengetahuan tentunya dengan budaya di Indonesia yang beragam dan unik. Mestinya kita harus bangga dan siap untuk melestarikannya agar tidak terjadi perampokan Budaya.

0 komentar :
Post a Comment