Pemotongan Hewan Menurut Pandangan Islam

Maha benar alloh dengan segala firmannya, tidak ada satupun yang luput dari pandanganNYA. Segala hal telah diatur sedemikian sempurna dan tidak menyebabkan dzolim terhadap makhluknya. Begitupun aturan agama Islam dalam mengatur penyembelihan hewan yang merujuk pada sebuah hadist yang isyaalloh sohih :
Rasulullah SAW. bersabda : “Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan (ihsan) pada segala sesuatu, maka jika kalian membunuh hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh, dan apabila kalian menyembelih, maka hendaklah berbuat ihsan dalam menyembelih, (yaitu) hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan binatang yang disembelihnya” (HR. Muslim).
Kesan
pertama seakan-akan alloh memerintahkan kita membunuh dan kalimat “menajamkan
pisaunya” seakan kita dilatih unuk
membunuh. Tetapi sebagai umat Islam kita harus meyakini bahwa Syari’at Islam
adalah Syari’at yang ya’lu walaa yu’la ‘alaihi (yang terbaik dan paling baik
dibandingkan yang lain.
Menurut
pandangan barat, Syari’at Islam adalah contoh nyata bahwa Islam betul-betul
tidak manusiawi dan bengis, suka berbuat kejam, menganiyaya binatang ternak,
dll. Islam membiarkan binatang ternak tidak berdaya disembelih meronta-ronta
kesakitan dan begitu tega.Selanjutnya>>>>
Metode Barat
Mengkonsumsi daging ternak haruslah dnegan cara yang baik, tidak menyiksa apalagi menganiyaya ternak, cara terbaik adalah dengan pemingsanan dulu selanjutnya disembelih. Pemingsanan dapat dilakukan dengan berbagai cara : pembiusan, stuning gun atau menggunakan arus listrik, cara ini seperti meraka yakini adalah cara yang terbaik karena hewan tidak meronta-ronta, tidak Nampak kesakitan atau teraniyaya.
Metode Barat
Mengkonsumsi daging ternak haruslah dnegan cara yang baik, tidak menyiksa apalagi menganiyaya ternak, cara terbaik adalah dengan pemingsanan dulu selanjutnya disembelih. Pemingsanan dapat dilakukan dengan berbagai cara : pembiusan, stuning gun atau menggunakan arus listrik, cara ini seperti meraka yakini adalah cara yang terbaik karena hewan tidak meronta-ronta, tidak Nampak kesakitan atau teraniyaya.
Cara pemingsanan yang terbaik menurut
mereka adalah dengan memukul bagian tertentu dan dengan kecepatan tertentu
biasanya alat yang digunakan adalah Captive Bolt
Pistol (CBP).
dengan alat tersebut meminimalisir kecelakaan terhadap pekerja.
Menurut Penelitian
Subhaanallah , di tengah-tengah kegundahan umat Islam, dengan sengaja Allah Swt. telah kirimkan jawabannya. Allah Swt. menugaskan 2 orang staf ahli peternakan dari Hanover University, sebuah universitas terkenal di Jerman. Beliau berdua adalah Prof. W. Schulze dan koleganya, Dr. Hazim. Berdua beliau memimpin suatu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan:.....
"manakah yang lebih manusiawi dan paling tidak sakit, penyembelihan secara Syari’at Islam (tanpa proses pemingsanan), atau penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan)".
Beliau berdua merancang penelitian sangat canggih mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi tersebut dipasang elektroda tertentu (microchip) yang disebut Electro-Encephalogram (EEG). EEG dipasang pada permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak. Alat ini dipakai untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Pada jantung sapi-sapi tersebut juga dipasang Electro-Cardiogram(ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar.
Untuk mencegah biological-error, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG dan ECG (yang telah terpasang) beberapa pekan. Setelah masa adaptasi dianggap cukup, separuh sapi disembelih secara Syari’at Islam dan separuh sisanya disembelih secara metode Barat.
Memotong tiga urat Syari’at Islam menuntunkan penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang sangat tajam dengan memotong 3 saluran pada leher bagian depan (saluran makanan, saluran nafas, serta 2 saluran pembuluh darah, yaitu arteri karotis dan vena jugularis).
dengan alat tersebut meminimalisir kecelakaan terhadap pekerja.
Menurut Penelitian
Subhaanallah , di tengah-tengah kegundahan umat Islam, dengan sengaja Allah Swt. telah kirimkan jawabannya. Allah Swt. menugaskan 2 orang staf ahli peternakan dari Hanover University, sebuah universitas terkenal di Jerman. Beliau berdua adalah Prof. W. Schulze dan koleganya, Dr. Hazim. Berdua beliau memimpin suatu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan:.....
"manakah yang lebih manusiawi dan paling tidak sakit, penyembelihan secara Syari’at Islam (tanpa proses pemingsanan), atau penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan)".
Beliau berdua merancang penelitian sangat canggih mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi tersebut dipasang elektroda tertentu (microchip) yang disebut Electro-Encephalogram (EEG). EEG dipasang pada permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak. Alat ini dipakai untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Pada jantung sapi-sapi tersebut juga dipasang Electro-Cardiogram(ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar.
Untuk mencegah biological-error, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG dan ECG (yang telah terpasang) beberapa pekan. Setelah masa adaptasi dianggap cukup, separuh sapi disembelih secara Syari’at Islam dan separuh sisanya disembelih secara metode Barat.
Memotong tiga urat Syari’at Islam menuntunkan penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang sangat tajam dengan memotong 3 saluran pada leher bagian depan (saluran makanan, saluran nafas, serta 2 saluran pembuluh darah, yaitu arteri karotis dan vena jugularis).
Perbandingan 2 Methode
Syari’at Islam tidak merekomendasikan pemingsanan. Sebaliknya, Metode Barat (Western Method) mengajarkan ternak dipingsankan dahulu sebelum disembelih.
Selama penelitian, EEG dan ECG pada seluruh ternak dicatat untuk merekam keadaan otak dan jantung semenjak sebelum pemingsanan (atau penyembelihan) hingga hewan ternak benar-benar mati. Nah, hasil penelitian inilah yang kita tunggu-tunggu!
HASIL
Hasil penelitian Prof. Schulze dan Dr. Hazim di Hanover University Jerman adalah sebagai berikut :
Penyembelihan ala Barat (Western Method)
1.
Setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi
terhuyung jatuh dancollaps. Setelah itu, sapi tidak bergerak-gerak lagi
sehingga mudah dikendalikan. Oleh karena itu, sapi dapat dengan mudah
disembelih, tanpa meronta-ronta, dan (nampaknya) tanpa rasa sakit. Pada saat
disembelih, darah yang keluar hanya sedikit (tidak sebanyak bila disembelih
tanpa proses stunning).
2.
Setelah proses
pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal
tersebut mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh ternak
(pada saat kepalanya dipukul).
3.
Grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG
yang drop ke batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan
rasa sakit yang luar biasa sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal.
Akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk menarik darah dari seluruh
organ tubuh serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.
4.
oleh karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar
tubuh secara maksimal, maka dihasilkan unhealthy meat (daging yang tidak
sehat), sehingga tidak layak dikonsumsi oleh manusia. Disebutkan dalam khasanah
ilmu dan teknologi daging (dipelajari di Fak. Peternakan UGM), bahwa timbunan
darah (yang tidak sempat keluar pada saat ternak mati/ disembelih) merupakan
tempat yang sangat ideal bagi tumbuh kembangnya bakteri pembusuk yang merupakan
agen utama perusak kualitas daging.
Penyembelihan
menurut tuntunan Syari’at Islam
1.
Ada 3 detik pertama setelah disembelih (dan ketiga saluran
pada leher sapi bagian depan terputus),
tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3
detik pertama setelah disembelih tidak ada indikasi rasa sakit.
2.
Pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya
penurunan grafik secaragradual (bertahap) yang sangat mirip dengan kejadian
deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi tersebut benar-benar kehilangan
kesadaran. Pada saat tersebut, tercatat pula oleh ECG bahwa jantung mulai
meningkat aktivitasnya.
3.
Setelah 6 detik pertama tersebut, ECG pada jantung merekam
adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah
dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleks
gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord).
Subhaanallah, pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di
bagian leher tersebut, grafik EEG tidak naik, tapi justeru drop sampai ke zero
– level (angka nol). Diterjemahkan oleh kedua ahli tersebut bahwa, “No feeling
of pain at all!” (tidak ada rasa sakit sama sekali!)Allaahu Akbar! Walillaahil
hamdu!
4.
Oleh karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar
tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang
layak dikonsumsi oleh manusia. Jenis daging semacam ini sangat sesuai dengan
prinsip Good Manufacturing Practice (GMP) yang menghasilkanHealthy Food.
pada kenyataannya :
Maha Suci Allah! Meronta-ronta dan meregangkan otot pada saat ternak disembelih ternyatabukanlah ekspresi rasa sakit! Sangat jauh berbeda dengan dugaan kita sebelumnya! Bahkan mungkin sudah jamak menjadi keyakinan kita bahwa setiap darah yang keluar dari anggota tubuh yang terluka pastilah disertai rasa sakit dan nyeri. Lebih-lebih yang terluka adalah leher dengan luka terbuka yang menganga lebar…!
Maha Suci Allah! Meronta-ronta dan meregangkan otot pada saat ternak disembelih ternyatabukanlah ekspresi rasa sakit! Sangat jauh berbeda dengan dugaan kita sebelumnya! Bahkan mungkin sudah jamak menjadi keyakinan kita bahwa setiap darah yang keluar dari anggota tubuh yang terluka pastilah disertai rasa sakit dan nyeri. Lebih-lebih yang terluka adalah leher dengan luka terbuka yang menganga lebar…!
Hasil penelitian Prof. Schulze dan Dr. Hazim berhasil membuktikan bahwa pisau yang mengiris leher (ref. Syari’at Islam) tidaklah ‘menyentuh’ saraf rasa sakit. Oleh karenanya, beliau berdua menyimpulkan bahwa sapi meronta-ronta dan meregangkan otot bukanlah ekspresi rasa sakit, tetapi hanyalah ekspresi ‘keterkejutan otot dan saraf’ saja (yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras). Mengapa demikian? Tentunya, hal ini tidak terlalu sulit dijelaskan (grafik EEG tidak menunjukkan adanya rasa sakit). maha benar Alloh dengan segala firmanNYA.

0 komentar :
Post a Comment